Penyakit Lepra dan Pengobatannya

Faktor penting dalam diagnosis lepra adalah inklusinya pada diagnosis banding gangguan kulit pada setiap orang yang bertempat tinggi di daerah lepra endemik. Lesi kulit anesteri dengan atau tanpa penebalan syaraf perifer sebenarnya patognomonis lepra. Biopsi kulit ketebalan penuh dari lesi aktif (diwarnai dengan pewarnaan histologi standar dan pewarnaan tahan-asam seperti Fite-Faraco)merupakan prosedur optimal untuk konfirmasi diagnosis dan klasifikasi penyakit yang tepat. Basil tahan asam jarang ditemukan pada penderita dengan penyakit indetermintae dan tuberkuloid, sehingga diagnosis pada kasus ini didasarkan pada gambaran klinis dan adanya granuloma kulit yang khas.

Uji klinis, mikrobiologi dan radiologi rutin mempunyai peran kecil atau tidak ada dalam diagnosis lepra, walaupun mereka mungkin berguna dalam mengesampingkan diagnosis lain. Berbagai assay untuk serum antibodi yang diarahkan terhadap antigen unik M.leprae telah dikembangkan, tetapi uji sekarang tidak cukup sendotif dan spesifik pada penyakit aktif untuk menjadi berguna pada tujuan diagnostik klinis.

Pengobatan Penyakti Lepra

Hanya tiga agen antimikroba yang telah terbukti secara tetap efektif pada pengobatan lepra. Sejak awal tahun 1940, dapsone (diaminodifenil sulfon) tetap merupakan dasar terapi kaerna harganya rendah, toksisitas minimal dan tersedia luas. Sayangnya, resisten sekunder cenderung berkembang ketika obat ini digunakan sebagai satu-satunya agen.

Lebih menguatirkan adalah semakin bertambahnya insiden resistensi primer yang telah dilaporkan sampai 30% penderita yang baru didiagnosis di Malaysia dan Ethiopia. Dermatitis, hepatitis dan methemoglobulinemia jarang tetapi kemungkinan mematikan. Anemia hemolitika terkait dosis yang mungkin berat, ditmeukan pada penderita dengan defisinesi glukose-6-fosfat dehidrogenase (G-6-PD), defisiensi methemoglobin reduktase dan hemoglobin M. Pemeriksaan kehamilan tidak menunjukkan kenaikan risiko kelainan janin.

Rifampin merupakan obat mikobakterisid yang paling tepat untuk M. Leprae mencapai kadar sangat baik dalam sel, di mana kebanyakan basil lepra menetap. Jarang dilaporkan resistensi terhadap dapson atau bila status reaksi berulang telah terjadi. Famakokinetiknya kurang dimengerti, teatpi waktu paruhnya bebeapa hari. Obat ini dngan cepat diambil oleh sel epitel, suatu sifat yang penting untuk aktivitasnya tetapi juga menimbulkan hiperpigmentasi kulit, iktiosis, serosis dan enteritis. Perubahan warna kulit coklat-kemerahan yang kuat secara kosmetik merupakan penghalang untuk digunakan dan sering mengakibatkan penghentian atau kurang ketaatan.

Dua pendekatan dianjurkan untuk menghalangi penularan lepra di daerah endemi. Pertama diarahkan pada risiko infeksi pada kontak rumah tangga penderita lepra, terutama mereka yang dengan penyakit multibasiler. Didasarkan pada pemeriksaan kontak secara periodik teratur dan pengobatan awal pada bukti adanya lepra pertama. Terapi profilaksis dicadangkan untuk lingkungan khusus sehingga dapat dihindari pengobatan tidak tepat 90-95% kontak yang tidak diharapkan untuk mengembangkan lepra.

Pendekatan kedua untuk pengendalian lepra adalah melalui vaksinasi. Akibat dari trial klinis dengan berbagai vaksin, termasuk bacile Calmette-Guerin telah mengecewakan tetapi kloning gen baru-baru ini untuk antigen utama M. Leprae telah memperbaharui harapan untuk perkembangan vaksin efektif.


>>> Obat Lepra Herbal Super Green Plus G2 untuk Pengobatan Penyakit Lepra, Klik Detail Disini!


This entry was posted in Penyakit Lepra and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Penyakit Lepra dan Pengobatannya

  1. mei says:

    apakah pyakit lepra bisa menyebabkan kematian ,,? dan bintik – bintik hitam berair apakah itu termasuk penyakit lepra atau cuma cacar air?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *